Thursday, March 31, 2005

Siapakah Engkau Anak?

Tulisan manis dari Bung Rudy Harahap di Republika Online Jumat, 30 April 2004, di bawah ini mengingatkan kita bahwasannya anak adalah amanah dan juga investasi terbesar untuk kehidupan kita di hari akhir nanti. Semoga bermanfaat dan ber-atsar (berkesan & berbekas).

===========================================================

"Cukup berdosa orang yang menyia-nyiakan tanggungjawab keluarga" (HR Abu Dawud)

Siapakah engkau sesungguhnya, Nanda, yang hadir di dalam kehidupanku? Sungguh, di saat menyaksikan wajahmu di dalam tidurmu, aku selalu diusik pertanyaan tersebut. Di tengah temaram lampu tidur pada malam yang senyap, kusaksikan kelasakanmu siang tadi, kini menjadi keteduhan telaga. Keteduhanmu, sungguh, selalu mengirikan orangtua.

Hingga usiamu kembali menghampiri ulangtahunmu, aku masih belum mendapati jawaban pasti, dari manakah engkau berasal dan kini menemani kami? Memang, ilmu kedokteran telah memberikan penjelasan: anak lahir akibat pembuahan pada sel telur (ovum) perempuan. Tapi, seringkas itukah penjelasan kehadiranmu, ketika engkau menawarkan jutaan keajaiban? Tawa, canda, dan kicau muraimu bagai air sejuk di kerongkongan orangtua yang dahaga. Di saat engkau murung, maka muramlah dunia. Seperti warna-warni di dalam lukisanmu, begitulah maknamu di tengah keluarga.

Penjelasan medis gagal mendefinisikanmu. Ah, mungkin Rabindranath Tagore dengan kebernasan pemikiran seorang filsuf, lebih tepat melukiskanmu ketika mengungkapkan, ''Setiap anak tiba dengan pesan bahwa Tuhan belum jera dengan manusia.''

Sang filsuf mungkin terpesona, kehadiranmu yang menjadi regenerasi bagi kehidupan, menjadi simbol eksistensi manusia bersama peradabannya, di muka bumi. Dengan demikian, Tagore mengungkapkan, ''Tuhan belum jera dengan manusia'' sehingga manusia hingga kini masih menjadi khalifah di muka bumi.

Seperti Tagore, saya pun ingin memaknai kehadiranmu. Tapi saya enggan menjadi sang penyair Khalil Gibran yang mengungkapkan, ''Anakmu bukan anakmu tetapi anak dari kehidupan.'' Maka nanda, di tengah keteduhan wajahmu di saat terlelap, kutemukan makna: engkau hadir sebagai refleksi daripada sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Pemberi dan Maha Penjaga. Mungkin itulah pesan yang tergenggam di tanganmu yang mungil -- bukankah setiap anak yang lahir dengan tangan terkepal -- saat pertama hadir di bumi.

Dengan kehadiranmu di tengah keluarga, menyebabkan orangtua rela dipanggang terik, demi memeliharamu dari rasa lapar. Tiada pemberian yang terikhlas terkecuali kepada anak. Tiada kasih bertepi kecuali kepada anak. Kehadiranmu yang menggenggam pesan, menyebabkan orangtua menjadi penyayang, pemelihara, mengikuti sifat Allah. Nabi yang menjadi junjungan umat pun berpesan, "Cintailah anak-anak dan kasih sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki" (HR Ath Thanthawi).

Seperti kisah para ulama, Nabi bersedia memperlama sujudnya karena ada seorang anak naik ke punggungnya. Dapat kubayangkan, Nabi memperlama sujud, karena sangat mengasihi anak. Tapi, di balik kisah itu, aku menghayati betapa seorang anak bersama kelasakannya, memberi bentuk pengajaran agar orangtua senantiasa memperlama sujud kepada-Nya. Bukankah engkau amanah dati Ilahi? Baik atau buruk kehidupanmu menjadi tanggung jawab orangtua. "Warisan bagi Allah 'Azza wajalla dari hambaNya yang beriman ialah puteranya yang beribadah kepada Allah sesudahnya" (HR Ath-Thanthawi).

Nanda, di tengah keteduhan air mukamu ketika terpulas, aku membayangkan: bagaimanakah kehidupanmu di masa depan? Betapa keserakahan para orangtua, seringkali mengatasnamakan untuk menjagamu dari rasa lapar sehingga korupsi dan mengeksploitasi alam, membuatku gamang membayangkan masa depanmu. Transparency International mencatat, Indonesia merupakan negara terkorup kelima, di dunia (kubayangkan: wajah-wajah kalian tertekuk tanpa marwah (kehormatan/pride) sebagai bangsa yang telah menggadaikan harga diri di muka bumi).

Setiap anak tiba dengan pesan bahwa Tuhan belum jera dengan manusia. Ah, Tagore memang benar, Tuhan belum jemu kepada manusia sehingga mengirimkan pesan melaluimu; mengepal tangan di saat dilahirkan. Tapi, kami para orangtua ini, justru seringkali abai kepada-Nya sehingga alpa menangkap pesan Tuhan di balik kelahiranmu. Sebagian daripada kami mendengus-dengus laiknya hewan yang diharamkan umat Islam (ah, betapa pengharaman untuk memakannya, semestinya tidak dimaknai memakan belaka tetapi meniru keserakahan sifatnya) menciptakan prahara di muka bumi. Padahal bukankah makna kehadiranmu merupakan pesan agar kasih-mengasihi, saling memelihara, dan tidak menaburkan kerusakan di muka bumi?

Ada juga di antara kami para orangtuamu, menerimamu hanya karena sesuai definisi kedokteran: kamu hadir akibat konsekuensi percintaan orangtua. Dengan demikian, mereka abai menangkap pesan bahwa kamu hadir sebagai refleksi sifat Allah terhadap hamba-Nya, sehingga hanya mengutamakan kebutuhan materimu. Tidak sedikit, bahkan, orangtua yang rela meninggalkamu: pergi jauh-jauh sekolah demi masa depannya, bukan mengutamakan memeliharamu sebagai ''warisan bagi Allah'' di hari kemudian.

Nanda, saat saya menulis ini di keheningan malam, hanya ditemani suara almarhum P Ramlee yang menyenandungkan tembang Anakku Sayali (tembang itu yang menidurkan ayah semasa kecil). Dengarlah: suaranya, suara cinta seorang ayah saat menyenandungkan andainya kami lah menyahut panggilan Ilahi, laguku biarlah ganti di jiwamu abadi. Betapa cinta P Ramlee (baca: orangtua) yang tidak bertepi, ingin abadi menembus ruang dan waktu melalui lagu, terhadap anaknya. Betapa agung cintanya kepada anak terutama ketika ia telah tiada.

Nanda, tembang P Ramlee itu, tembang cinta seorang ayah kepada anaknya, membuat air mataku merebak. Sungai kecil mengalir di pipi. Semestinya setiap orangtua seperti P Ramlee. Maka, maafkan Nanda, bila masih ada orangtua yang tidak insyaf jika kehadiranmu merupakan jalan rohani untuk menghampiri-Nya. Maafkan Nanda, bila ada orangtua yang tidak mampu menerima pesan di balik kepalan tangan seorang bayi yang tergenggam saat lahir, bahwa (pesan itu) agar kami para orangtua meneladani sifat Allah di muka bumi.

( Rudy Harahap )

Wednesday, March 30, 2005

Anak


oleh

Prof. DR. M. Quraish Shihab
Lentera Hati, Metro TV


Kebetulan pengajian yang hadir saat ini adalah ibu-ibu, bukan berarti yang mengasuh anak adalah kewajiban ibu semata, tapi juga bapak. Bahkan di dalam Al Quran banyak merekam bahwa kewajiban mendidik anak justru dari bapak. Seperti kisah Luqmanul Hakim dalam Surat Luqman.

Sebenarnya anak adalah dambaan semua makhluk, bukan hanya manusia. Itu sebabnya salah satu firman Allah :

Aku tidak perlu bersumpah dengan negeri kota Mekkah, dan aku tidak perlu bersumpah menyangkut ayah dan anak”. Ini menunjukkan suatu naluri bahwa semua makhluk hidup mendambakan keturunan untuk melanjutkan jenisnya.

Karena anak adalah dambaan, maka semua makhluk hidup menggantungkan harapan pada sang anak. Kalau pada manusia, kita menginginkan anak kita menjadi anak yang sholeh, dan bahkan lebih dari sholeh yaitu sebagai qurrota a’yun (penyejuk mata).

Ini dilukiskan QS. Al-A’raaf:189 :
Dia yang telah menciptakan kamu pasangan dari jenis yang sama (jenis manusia), sewaktu sang suami menyentuhnya/menyelubunginya (kata halus dari hubungan seks), isterinya hamil, kandungannya masih ringan, maka berlalulah hari-hari sampai menjadi berat. Maka ketika itu, keduanya (si ibu dan bapak) berdoa, ya Allah jika Engkau jadikan anak ini anak yang shaleh, sempurna jasmani dan rohani, maka kami akan bersyukur”.
Disebutkan di ayat yang lain “…Juga mereka diliputi rasa ragu dan diselimuti kecemasan serta harapan.”

Itu semua terjadi karena kita sangat mendambakan anak.

Dalam membesarkan dan mendidik anak, maka perlu digarisbawahi bahwa 2 faktor yang nantinya akan membentuk anak itu dan mempengaruhi perkembangan jiwa dan jasmaninya :

Faktor keturunan. Sering kita mendengar komentar “Anak itu mirip bapak atau ibunya”. Karena itu jika ingin mendapatkan anak yang baik, maka pilih pasangan yang baik. Nabi sudah ingatkan, “Pilih-pilihlah tempat kamu menempatkan benihmu”. Kenapa? karena ada faktor gen yang akan menurun kepada anak.

Faktor pendidikan. Jangan menduga pendidikan ini hanya bisa dimulai saat bayi sudah bisa bicara. Yang benar adalah pendidikan dimulai sejak pertemuan sperma dan ovum.
Saya (Quraish Shihab) ingin menggambarkan bahwa jiwa itu sangat mempengaruhi sebuah aktifitas atau pekerjaan. Contoh, ibu-ibu akan berbeda masak untuk suami dengan masak untuk tamu. Kira-kira mana yang lebih bagus? Buat tamu biasanya lebih bagus. Kenapa? Karena jiwa berupa perhatian ibu kepada tamu menjadikan ibu-ibu sangat berhati-hati dalam memilih bahan dan resep. Menjahit untuk pakaian ke pesta dan menjahit untuk pakaian tidur, akan berbeda. Itu disebabkan kondisi kejiwaan yang berbeda saat membuat dua jenis pakaian tersebut.

Maka demikian pulalah, jika berhubungan seks dalam rangka mempertemukan sperma dan ovum, ketika awal pembentukan anak, sangat dipengaruhi oleh kondisi kejiwaan ibu dan bapaknya. Jika hubungan seks dilakukan dalam keadaan takut, maka anaknya dapat menjadi penakut. Maka agama mengajarkan agar melakukan hubungan seks harus dalam suasana keagamaan, baca doa, agar anak itu membawa benih yang baik dan jiwa yang sehat dan kuat.

Ibu dan bapak juga sangat berperan besar dalam kesempurnaan kelahiran anak tersebut. Itu sebabnya dalam Al Quran, ketika Allah berbicara ttg penciptaan Adam dimana tidak ada bapak dan ibunya, maka Allah berfirman dengan kata “Khalaqtu” (Aku ciptakan) dalam firman Allah “Hai iblis, apa yang menghalangi kamu terhadap apa yang Aku ciptakan?”. Allah gunakan kata “Aku” dalam penciptaan Adam, tidak ada yang terlibat kecuali Allah semata.

Tetapi sewaktu reproduksi anak manusia, Allah berfiirman “Laqad khalaqnal insaana fiii ahsani taqwim”. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Kenapa menggunakan kata “Kami”? Karena ibu dan bapak terlibat dalam hal penciptaan anak. Oleh karena itu mendidik anak adalah dari sejak pertemuan sperma dan ovum.

Anak yang lahir sudah dapat merasakan kasih sayang ibu bapaknya. Anak yang telah lahir seminggu sudah dapat tertawa. Mengapa? Itu bukan karena dia sudah dapat melihat ibu bapaknya, melainkan dia sudah merasakan kasih sayang ibu bapaknya. Itu sebabnya bayi yang buta pun dapat tertawa, karena dia sudah punya perasaan. Ini seringkali tidak kita sadari dan akibatnya kita salah didik anak sejak kecil.

Jaman nabi, ada anak digendong oleh nabi, tiba-tiba anaknya pipis, kemudian direnggut anak tersebut oleh ibunya. Apakah anaknya tidak memiliki perasaan ketika itu? Pasti. Karena itu, Nabi menegur, “Hai ibu, pipisnya ini dapat dibersihkan dengan air, tetapi hatinya yang luka, siapa yang bisa membersihkannya?”.

Sebagian besar dari kompleks-kompleks kejiwaan (rasa minder, dsb) disebabkan adalah perlakuan orang tua atau lingkungan sekitarnya ketika orang tersebut masih kecil.

Dalam mendidik anak bukan hanya kewajiban ibu. Kita lihat dalam Al-Quran, bagaimana Luqman mendidik anaknya. Luqman adalah seorang bapak.

Kita kupas dan lihat lagi ayat AlQuraan ditujukan pada suami :

Isteri-isteri kamu adalah ladang buat kamu”. Jadi suaminya adalah petani. Ayat ini menyatakan, bahwa yang menentukan jenis kelamin adalah bapak. Betul memang Allah yang menentukan tapi Allah tentukan jenis kelamin anak melalui satu sistem, yaitu melalui bapak/laki-laki.

Laki-laki membawa kromosom XY, perempuan membawa kromosom XX. Kalau bertemu kemudian menghasilkan XY, maka akan menghasilkan anak laki-laki, tapi kalau menghasilkan pertemuan XX, maka akan menghasilkan anak perempuan. Jadi yang menentukan jenis kelamin anak adalah bapak. Keliru jika ada bapak-bapak yang mengatakan belum mendapatkan anak laki-laki atau anak perempuan, maka dia akan kawin lagi. Keliru pendapat ini, karena penentuan jenis kelamin bukan kesalahan ibunya melainkan kesalahan bapaknya sendiri.

Karena bapak sebagai petani, maka kalau mau tomat, ya tanam tomat. Jika ingin apel maka tanam apel. Jangan marah jika ingin apel tapi jadinya tomat karena yang ditanam tomat.

Tapi pengertian “ladang bagi kamu” tidak hanya sampai disitu. Petani jika sudah menanam benih apakah lantas dia tinggalkan? Membiarkan saja ladang dan benih tersebut? Tentu tidak. Petani akan memelihara, merawat, menyiram benih dan ladang tersebut. Jika ada hama, dia bersihkan. Dia pupuk ladangnya agar tetap subur. Apabila benih tersebut sudah tumbuh dan berbuah maka sang petani tetap memelihara tumbuhan tersebut. Begitulah seharusnya mendidik anak bagi para laki-laki yang diibaratkan sebagai petani dan isteri-isterinya sebagai ladang.

Sang petani pula ketika menanam benih, berharap semoga dia tidak salah menanamnya di batu karang, tapi di tanah yang subur, mendapatkan sinar matahari yang cukup, dan sebagainya. Begitu pula dengan benih sperma, semoga sang ayah tidak salah menanamnya di tempat yang tidak subur, mendapatkan sinar lingkungan yang baik, cukup makanan dan pakaian yang akan menumbuhkannya. Begitulah cara mendidik anak sejak penanaman benih dilakukan.

Watak manusia sebagian besar lahir dari pengalaman-pengalamannya, pendidikan dan pembiasaannya semenjak kecil. Seringkali kita lihat orang tua tidak membiasakan anaknya sejak kecil kepada kebaikan. Oleh karena itu, Nabi bersabda, “Allah merahmati seseorang yang membantu anaknya agar bisa berbakti kepadanya”. Maksudnya adalah orang tua menerima dan mengabulkan apa yang mudah bagi sang anak, tidak membebani anak dengan beban yang berat, seperti tidak menyuruh sholat tahajud, puasa sunnah karena anak masih kecil.

Lalu orang tua tidak menghinanya, “dasar bodoh, masa rangking 10”. Kalau anak dimaki, kita mengajar kepadanya bagaimana memaki. Kalau anak dihina, kita membentuk kepribadian anak rendah diri.

Cinta kepada anak bukan menjadikan anak itu seperti kita. Cinta itu adalah hubungan dua “aku”, jadi harus berbeda. Cinta itu mendidik anak sesuai dengan kepribadian dan bawaannya. Anak secara fisik bisa sama dengan bapak ibunya, tapi jangan paksa anak menjadi bapak ibunya dari segi tabiat dan pendidikannya. Anak saya (Quraish Shihab) tidak ada yang ingin menjadi kyai seperti saya. Saya tidak bisa memaksa. Tapi saya bisa mendidik mereka dengan didikan agama, sehingga jika mereka menjadi musisi maka dapat menjadi musisi yang agamawan.

Karena itu, sang anak bisa mencintai saya, dan sayapun dapat mencintainya, karena cinta itu adalah hubungan dua “aku”.


Pertanyaan :

1. Kira-kira umur berapa mendidik anak dengan memasukkan nilai-nilai agama seperti mengajarkan sholat?

Mendidik anak itu sejak janin seperti yang sudah disebutkan di atas, tapi tidak secara langsung. Mendidik anak bisa melalui perasaan kita, melalui lingkungan, melalui kasih sayang yang mengalir dari kita kepadanya, sehingga melahirkan kasih sayang dia kepada ibunya. Begitu dia lahir, sedikit demi sedikit, kita didik dia sesuai perkembangan otaknya/pikirannya. Memang pada awal2 anak itu menyerap pendidikan melalui matanya daripada melalui otaknya. Jadi dia dapat diberi contoh-contoh oleh orang tuanya.

Sebagai contoh tentang sholat, dia bisa diberi contoh bagaimana sholat dengan mengikuti ibu bapaknya, namun dia belum bisa diberi keterangan bahwa sholat itu wajib karena dia belum mengerti. Nanti setelah dia dewasa menurut hadits Nabi, “Perintahkanlah sholat ketika anakmu berusia 7 tahun”. Karena anak tersebut sudah dapat mengerti tentang suatu kewajiban menginjak usia tersebut.

Mengajar sabar kepada anak, bisa dilakukan ketika anak berusia 1 tahun. Sekarang ada lembaga-lembaga pendidikan yang menerapkan pendidikan anak usia 3-4 bulan melalui contoh. Seperti jika seorang anak sangat menginginkan mainannya, diajaknya untuk bersabar.

Betul, dalam janin dapat didik melalui diperdengarkan kepadanya musik atau mengaji dari ibunya, karena itu pula anak yang lahir maka diperdengarkan pertama kali dengan adzan dan qomat. Boleh jadi anak tersebut belum mengerti apa yang dia dengar tapi bayi atau janin tersebut sudah memiliki perasaan. Karena salah satu alat untuk menangkap pengetahuan adalah perasaan.


2. Saya punya anak umur 9 tahun, ketika saya suruh anak untuk sholat shubuh masih susah untuk membangunkan dia. Apa yang harus saya lakukan padanya?

Kita lihat dulu pembiasaan di lingkungan dalam rumahnya. Tidur adalah pembiasaan. Jika sang anak melihat kondisi pembiasaan orang tuanya bangun siang, maka dia otomatis terbiasa bangun siang. Jika orang tua terbiasa tidur larut malam, maka sang anak akan belajar untuk tidur larut malam.

Atau walaupun orang tuanya terbiasa bangun jam 3.30 WIB malam untuk tahajud, tapi kalau sampai memaksa anak yang masih kecil untuk selalu bangun saat itu, dan terasa berat bagi sang anak, maka itu dapat membuat anak menjadi terbebani. Biarlah anak itu tidur yang terpenting anak kita sholat wajib. Allah merahmati seorang tua yang membantu anaknya berbakti kepadanya. Kalau terus dipaksa bangun maka bisa dimungkinkan anak itu berani berbohong, dia akan berani berkata sudah sholat tapi tidur kembali, padahal dia belum sholat.

Situasi anak kita sudah berbeda dengan kondisi kita dahulu. Maka mendidik mereka harus sesuai dengan kondisi generasinya saat ini dan yang akan datang. Orang tua dituntut untuk banyak mengerti kondisi anak. Selama tidak melanggar agama, maka orang tua seharusnya mendukung sang anak, walaupun itu bertentangan dengan keinginan orang tua, seperti cita-cita sang anak. Mendidik anak bukan membentuk anak seperti kita melainkan membentuk mereka dengan tabiat untuk kesiapan masa depannya, dan sesuai dengan kondisi generasinya.

Ajarlah anak-anakmu, bukan dalam keadaan yang serupa denganmu”, kata Ali bin Abi Thalib.

3. Dosakah apabila keras sedikit untuk anak ketika anak tersebut tidak mengikuti perintah agama? Kadang timbul rasa bosan karena harus terus menerus mengingatkan pada sang anak?

Kita harus bersahabat dengan anak. Kita harus menjadi bagian anaknya. Ada anak yang jika dimarahi dia menjauh, ketika dibujuk dia mendekat. Kenalilah mereka. Kalau kita bersahabat, dia akan mencurahkan isi hatinya. Kalau kita bersahabat pada mereka, maka kita akan menuntun dia dan dia dengan rela akan mengikuti tuntunan tersebut. Ada anak yang tidak perlu dimarahi, tapi ada pula anak yang perlu dimarahi.

Jangan bosan, karena kalau tidak sabar akan merugi seperti disebutkan dalam surat Al-Ashr, “Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran”.


4. Lingkungan seperti media massa saat ini banyak menayangkan tayangan yang belum pantas, bagaimana menyikapi hal ini agar anak kita menjadi anak yang sholeh? Bagaimana bila mengumandangkan adzan pada saat anak kita lahir dengan menggunakan kaset?

Disinilah kita harus pandai-pandai memilih bacaan dan tayangan untuk mereka. Kalaupun sulit untuk itu, maka ketika melihat tayangan televisi anak harus didampingi oleh orang tuanya. Kalaupun ini masih sulit, setidaknya ada pengawasan.

Tentang kaset yang diperdengarkan kepada bayi, kalau sewaktu2 memperdengarkan melalui kaset tidaklah mengapa, seperti diperdengarkan kaset-kaset pengajian. Tapi kalau bisa adzan/mengaji dengan suara sendiri alangkah lebih bagus.


Kesimpulan :

1. Jangan sampai terlambat dalam mendidik anak, sehingga orang lain atau lingkungan yang akan membentuknya. Kita tidak tahu dan tidak bisa mengontrol secara langsung bagaimana jika mereka yang mendidik anak kita.

2. Mendidik anak bukan hanya tugas ibu, tapi tugas bapak pula. Tidak benar jika anaknya nakal maka yang salah hanya ibunya, tapi juga bapaknya.

3. Banyak sekali pembentukan kepribadian seseorang itu adalah pada masa kecil dan pertumbuhannya. Mendidik anak di waktu kecil seperti mengukir di batu, mendidik anak di waktu besar seperti mengukir di air. Kalau baik pendidikannya di masa kecil, maka insya Allah akan baik sampai dia dewasa.

Tuesday, March 29, 2005

Manajemen Waktu: Kunci Menjadi Orang Tua Baru

Menjadi orang tua mungkin salah satu pekerjaan yang paling berharga sekaligus menyenangkan yang pernah dilakukan seseorang seumur hidupnya. Sebaliknya, menjadi orang tua juga menjadi salah satu pekerjaan tersulit dan penuh tekanan yang mungkin pernah Anda alami.

Jangan Khawatir, Ada Banyak Strategi
Mestikah kita khawatir? Tidak perlu! Ada banyak buku dan tulisan yang telah mengulas cara dan strategi untuk menanganinya sebagai bahan rujukan bagi kita. Cara dan strategi tersebut dibuat dalam rangka memberdayakan Anda dan memberi Anda nuansa pilihan dan solusi penanganannya. Strategi tersebut sedikit banyak mengingatkan kita bahwasannya ada banyak cara untuk menanggulangi tekanan tatkala menjadi orang tua. Strategi itu pula yan menunjukkan kepada kita bahwa tekanan yang muncul selama menjadi orang tua sebagian besar justru muncul karena kita sendiri yang menciptakannya. Dengan kata lain, jalan pemikiran kita sendirilah yang justru menyesatkan kita. Tatkala kita sadar telah melakukannya, barulah kita membuka pintu lebar-lebar terhadap pilihan penyelesaian yang ada. Oleh karena itu kita dituntut agar lebih tenang dan jernih dalam berfikir, jangan terbawa emosi. Dalam ketenangan dan kejernihan pikiran tersebut, maka tugas-tugas sebagai orang tua akan lebih mudah tertata.

Bagi sebagian orang, menjadi orang tua adalah tugas yang teramat penting dalam hidupnya. Meski sulit, orang tua terkadang harus memutuskan banyak hal seraya membuat suatu lingkungan atmosfir yang memungkinkan anggota keluarga saling mengasihi dan menghormati sesama serta tetap mampu menikmati hidup.

Pekerjaan Tersulit di Dunia
Sesosok manusia baru muncul dan hidup bersama di rumah Anda. Sesosok manusia baru meski sangat kecil tapi membutuhkan perhatian yang penuh hingga menyita perhatian seluruh isi rumah. Di saat kita sibuk mengurus bayi kita dari mulai memandikannya, mengganti popoknya, memberinya ASI atau makan, dan menjaganya agar tetap bersih; Anda mungkin baru teringat dan sadar bahwa Anda belum menyiapkan hidangan untuk makan malam, belum sempat mengurus diri seperti mandi atau berias diri, tak ingat lagi untuk menelpon balik teman-teman atau rekan kerja, atau menyempatkan diri pergi ke kamar kecil. Itu semua menurut Anda bisa ditunda dan menunggu selepas selesai mengasuh anak Anda. Anda merasa berkewajiban untuk memenuhi apa pun yang bayi Anda butuhkan.

Selamat, Anda telah diterima untuk mengerjakan pekerjaan terberat di seluruh dunia: Menjadi Orang Tua. Sungguh ini merupakan pekerjaan terberat, karena tidak akan ada bayaran atau slip gaji yang akan Anda terima tiap bulannya. Tidak juga cuti atau libur bekerja akan Anda terima pada beberapa tahun ke depan dikarenakan kesibukan Anda untuk mengurus si bayi. Tapi percayalah, imbal balik yang akan diterima dari fungsi Anda menjadi orang tua sangat besar.

Manajemen Waktu
Lantas, bagaimana caranya agar Anda berhasil menjalankan peran atau pekerjaan baru Anda sebagai orang tua? Sebagian orang tua menganggap peran atau pekerjaan ini sebagai karir tambahan, bukan sebagai karir baru. Bagaimana lalu cara Anda agar menyesuaikan kehidupan kesehariaan dan pekerjaan yang telah Anda miliki ketika Anda memiliki bayi baru? Apa yang harus Anda lakukan terhadap tumpukan piring-gelas kotor dan cucian pakaian yang menggunung serta bertumpuk masalah rumah tangga lainnya? Sederhananya, bagaimana caranya serta apa rahasianya agar semuanya bisa diatasi.

Kuncinya adalah manajemen waktu. Bayi Anda akan selalu memberikan tantangan dan problematika bagi Anda dari hari ke hari. Karean setiap bayi adalah unik, sehingga tantangan dan problematika baru pun selalu muncul bagi Anda. Tugas Andalah agar dapat mengatasinya setiap tantangan dan problematika yang muncul tersebut. Belajar untuk mengatur waktu sesuai dengan proses perkembangan dan pertumbuhan sang bayi memang membutuhkan waktu. Sama seperti halnya pekerjaan lain, sekali Anda telah menemukan celahnya dan belajar untuk memprioritaskan berdasarkan tanggung jawab, Anda akan dapat lebih mudah dan terbiasa dalam menyelesaikannya.

Contoh, untuk masalah piring dan gelas yang kotor, biarkanlah dulu, nanati setelah kita agak lenggang, baru mulai mengerjakannya. Cucian kotor? Sekiranya Anda memiliki mesin cuci, dudukkan bayi Anda tatkala mesin penering sedang bekerja, sambil Anda melipat pakaian yang telah kering.

Intinya adalah, bila kita kerjakan pekerjaan sebagai orang tua ini secara penuh waktu (full-time) dan sepenuh hati, maka kasih sayang tak terhingga akan kita dapatkan dari anak kita.
Adakah yang lebih baik dari itu semua?


Kurnia Wahyudi

Monday, March 28, 2005

Anakku, Rayyn Derya Anthares

Nama adalah do’a. Itulah yang Rasul Allah isyaratkan kepada kita sewaktu ingin memberi nama kepada sang anak yang baru lahir. Nama tetaplah sebuah harapan, akan masa depan dan kepribadian atau prilaku sang anak, meski Shakespeare tak sependapat dengannya.

Doa itu pula yang terhantar tatkala putra pertamaku lahir. Hingar-bingar gaung Pemilu masih terasa. Harapan akan munculnya calon pemimpin yang mampu membawa bangsa dari keterpurukan. Terinspirasi situasi dan harapan itulah akau menamakan anakku, Rayyn Derya Anthares.

Nama Rayyn kuambil dari versi Inggrisnya bahasa Arab, Ar-Royyan, yang artinya nama salah satu pintu gerbang syurga. Pintu gerbang syurga yang diperuntukkan bagi orang yang gemar berpuasa (shaum Ramadhan).

Sedangkan Derya berasal dari bahasa Turki yang berarti samudera. Kata Derya berawal dari singkatan nama kami berdua, Dessy – Kurnia (Deria), tapi mencoba mengembangkan makna kata tersebut, hingga terpilihlah kata Derya tersebut.

Selanjutnya Anthares diambil dari bahasa Romawi dan memiliki banyak arti. Secara etimologi berasal dari kata anthi (lawan atau kebalikan) dan ares (kekerasan). Anthares berarti kebalikan dari kekerasan, yakni damai, lembut, anti kekerasan.

Doa dari nama anakku adalah agar kelak ia dapat menghadirkan dan menghantar ummat manusia ke pintu gerbang samudera kedamaian dan selalu mengajarkan kebaikan serta anti kekerasan. Harapan kami pula kelak Rayyn akan akan mewariskan kejayaan bangsa-bangsa dari asal namanya berawal; Arab (Islam), Turki dan Romawi.

Nama tetap memiliki sebuah makna, meskipun pada akhirnya jauh panggang dari api. Setidaknya, doa dan harapan orang tua akan kebaikan semoga nantinya hinggap dan menetap dalam perjalanan hidup mereka. Tak ada orang tua yang menginginkan anaknya menderita, harapan kecil itu dititipkan dalam bentuk sebuah nama.


Kurnia Wahyudi