Wednesday, April 20, 2005

Tak Ada Istilah Bayi/Anak Nakal

Sering kali kita merasa memiliki bayi atau anak yang “menyusahkan”. Sering kali pula kita mendapati putri kita melampiaskan kemarahannya tanpa alasan yang jelas atau putra kita sangat susah bila disuruh makan. Menurut survei, sekitar 20% anak-anak membuat pusing orang tua dengan tingkah lakunya yang mengesalkan. Bila Anda memiliki anak seperti itu, Anda akan merasa kehabisan tenaga, depresi, tidak-yakin akan kemampuannya dalam mengurus anak (frustasi), marah-marah terhadap anak, dan merasa malu dengan prilaku anak di hadapan orang lain.


Sebuah studi yang pernah dilakukan beberapa tahun yang lalu menyimpulkan bahwa sesungguhnya setiap anak sejak lahir telah memilki sebuah kesatuan kualitas temperamental (sifat) tertentu. Maksudnya, sejak lahir seorang anak telah dianugerahi untuk memiliki kepribadian atau emosi atau tempramen tertentu. Jadi kita tidak dapat menyalahkan sepenuhnya kepada orang tua, bila mereka memiliki anak yang “kurang sempurna” dari sisi kepribadian atau emosi atau tempramen. Walau ada peran orang tua, tapi itu sangatlah kecil. “Memang sudah dari sananya!” bila kita bisa meminjam istilah umumnya.

Kepribadian atau tempramen ini sebenarnya dapat kita deteksi sejak dini, dari bulan-bulan awal sang anak lahir. Hasil studi tersebut menyimpulkan pula bahwa sedari dini kita dapat menentukan bahwa bayi Anda bakal menjadi anak yang “menyusahkan” atau tidak. Walau memang benar kenyataannya bahwa tempramen seorang anak dipengaruhi oleh banyak faktor, tapi secara umum, akan tetap tak berubah seumur hidup. Contoh bila bayi Anda kerap mbandel menolak disuapi sewaktu jamnya makan, maka boleh jadi sikap keras kepalanya ini akan terus terbawa dalam kehidupannya hingga dewasa.

Jadi apapun kepribadian dan tempramen yang anak Anda miliki, jauhi sikap melabeli mereka dengan “baik” atau “buruk”. Sebab itu semua bukan salah sang anak, juga bukan kesalahan Anda atau pasangan Anda. Memang sudah jalannya (takdirnya)! Anda sendiri pun telah terlahir dengan kepribadian dan tempramen tertentu. Bila Anda merasa memiliki perasaan mudah sekali khawatir akan situasi tertentu, bisa jadi begitu pula kepribadian itu Anda tunjukan sewaktu Anda masih kecil. Contohnya, mungkin sewaktu masih kecil Anda merasa bahwa Anda tidak bisa tidur bila lampu tidak dalam kondisi menyala, maksudnya hanya bisa tidur dalam keadaan terang. Sebab Anda merasa bila tidur di tempat atau dalam keadaan gelap, maka banyak perasaan yang tidak tentu menghantui sehingga sulit untuk tidur.

Oleh karena itu, bersikaplah sesensitif mungkin terhadap tempramen bayi Anda. Dengan begitu Anda akan dapat memodifikasi pendekatan Anda terhadap tingkah laku sang bayi guna menghindari dan mengantisipasi konflik atau ketegangan yang mungkin terjadi. Anda akan jauh lebih percaya diri dalam menangani anak Anda, tanpa terlalu frustasi sehingga dapat membina hubungan Anda dengan sang anak menjadi jauh lebih bahagia, lebih banyak curahan kasih sayang, serta lebih memuaskan bagi kedua pihak.


Kurnia Wahyudi

Sunday, April 17, 2005

Benarkah Ibu Lebih Banyak Tahu?

Siapakah yang paling banyak tahu perihal cara mengurus anak? Bukan ayah atau ibu mereka yang tahu banyak apa yang terbaik untuk bayi mereka. Menjadi orang tua bukan berarti kita otomatis menjadi seorang ahli dan tahu banyak mengenai sang anak. Teramat banyak hal yang kita tidak ketahui, karena ketika sang bayi dilahirkan tidak disertai dengan instruction manual (pedoman penanganan). Inilah yang menjadi alasan utama, akan teramat baik bagi kita untuk selalu bertanya kepada ahlinya bila muncul isu atau masalah berkaitan dengan penanganan anak. Orang tua tak perlu merasa aneh atau lucu atau bodoh tatkala berkonsultasi mengenai isi majalah/buku penanganan anak atau tatkala meminta nasihat kepada teman atau dokter. Bukanlah sesuatu hal yang memalukan untuk mengakui bahwa Anda tidak tahu cara terbaik dalam menangani permasalahan anak Anda.

Sudah tak terhitung jumlahnya studi dan survei yang telah dilakukan menyangkut seluruh aspek penanganan anak. Ternyata secara umum dapat diambil kesimpulan bahwa kebanyakan orang tua merasa bingung dan kurang informasi. Ambil contoh mengenai isu bayi manja. Hasil polling menyatakan bahwa dari 57 persen orang tua yang memiliki anak berumur antara 0 – 6 bulan, 62 persen orang tua memiliki pemahaman yang tidak benar yakni anak berumur 6 bulan dapat dimanja. Sebagai tambahan informasi, 44 persen orang tua yang memiliki anak kecil memiliki pemahaman yang salah yakni bila kerap menggendong anak kita yang berusia 3 bulan tatkala ia menangis akan menjadikannya anak yang manja.

Para ahli perkembangan anak menganggap bahwa tindakan tersebut di atas adalah salah. Mereka hampir sepakat menyatakan bahwa bila Anda lengsung menggendong sang bayi tatkala mereka menangis justru akan meningkatan ambang stress dan penderitaan/kesedihan sang anak, yang berakibat kepada menurunnya proses pembelajaran mereka. Responsif terhadap keinginan sang anak bukanlah suatu sikap memanjakan, justru sebaliknya anak Anda membutuhkan perhatian guna membangun tingkat kepercayaan mereka terhadap Anda.

Dari survey yang sama terungkap bahwa banyak orang tua yang salah paham perihal harapan terhadap pertumbuhan anak. Selain itu terungkap pula bahwa lebih dari lima puluh persen pasangan orang tua tidak mengetahui secara pasti usia seorang bayi dapat merasakan dan terpengaruh oleh suasana hati orang-orang di sekitarnya. Mengapa hal ini dianggap penting? Karena dari hasil penelitian telah membuktikan bahwa perasaan gelisah, sedih atau murung yang berlebihan dari seorang perawat bayi akan mengakibatkan dampak buruk terhadap perkembangan sang bayi.

Pesan yang ingin diungkap dari hasil survey tersebut adalah kita mesti dan tetap harus belajar banyak untuk menjadi orang tua, walaupun kita telah memiliki anak sekalipun! Banyak orang tua yang tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika menyangkut keputusan terbaik yang harus diambil untuk perkembangan anak tatkala membesarkan mereka. Sekalai lagi, hal ini bukanlah menjadi suatu hal yang memalukan. Beruntung, masih ada para ahli, buku, dan dokter keluarga yang mampu menjawabnya. Jadi, bilamana Anda dan pasangan menemui kebuntuan perihal yang terbaik untuk anak Anda, hentikan perdebatan dan menganggap diri lebih tahu. Tanya sekeliling Anda, cari informasi dari bacaan, atau telepon dokter anak, untuk mendapatkan jawaban yang lebih pasti.


Kurnia Wahyudi

Tuesday, April 05, 2005

Matahari Madinah Pun Tersenyum ..........

Malam Madinah yang hening syahdu, tiba-tiba pecah. Suara pertengkaran itu membuat pintu-pintu dan jendela terbuka. Wajah penduduk kota pun bermunculan. Ada apa gerangan?

"Sampai hati engkau ya menuduhku, ya Syeikh. Engkau menuduhku memasuki rumah orang? Padahal rumah itu rumahku. Akulah Al-Faruq. Al-Faruq wali bagi keluarga Al-Munkadir yang berasal dari cucu-cicit kaum Quraisy!" Dengan matanya yang tajam orang tua yang dituduh hendak memasuki rumah Rabi'ah itu mengajukan pembelaannya di depan Imam Malik.

Benarkah ia Al-Faruq? Semua ragu. Mereka tidak pernah mengenali rupa Al-Faruq sejak 20 tahun yang lalu. Inikah Al-Faruq yang tidak ada khabarnya itu?

Ibu Rabi'ah yang berada di dalam rumah tersentak. Hatinya berdebar hebat.

"Benar! Ia Al-Faruq!" Ujar ibu Rabi'ah pelan. Semua menoleh pada dirinya.

"Benar, ia suamiku. Dialah ayahmu, hai Rabi'ah!" Semua terdiam, mencoba memahaminya. Lebih-lebih Rabi'ah. Ia mengalami gelombang perasaan yang begitu tiba-tiba.

"Rabiah itu anakmu, wahai Al-Faruq." wanita itu kini menatap syahdu ke lelaki tua yang begitu terpana melihat penampilannya.

Semua yang hadir satu persatu beranjak pergi. Satu per satu pintu-pintu dan jendela tertutup lagi. Semua kembali senyap. Kecuali deru dalam dada Rabi'ah. Lelaki tua itu, dan sang wanita, ibu Rabi'ah. Mereka pun bertangis-tangisan dalam pelukan haru-rindu yang menggebu-gebu.

Setelah tenang kembali ketiganya masuk ke dalam rumah. Masih tanpa kata-kata. Dalam benak sang ibu, terputar semua kilasan peristiwa dua puluh tahun yang lalu. Ketika masih pengantin baru, suaminya pergi menuju medan jihad, ke Khurasan dan Bukhara.

Dua puluh tahun sudah tidak ada kabar, sementara benih dalam perutnya kini sudah menjelma menjadi seorang pemuda dewasa. Di tengah suara-suara pertanyaan anaknya dan cerita suaminya, ia mulai diliputi rasa bersalah. Suaminya pasti menanyakan uang yang dititipkan dahulu. Tiga puluh ribu dinar! Angka yang tidak tersisa sedikit pun ditangannya!

Sang anak ingin tahu alasan ayahnya tidak pulang dalam waktu yang begitu lama kepada ibunya.

"Ibu hanya mengatakan, andai maut menghadangmu di medan perang, apakah engkau akan lari pulang tunggang-langgang seperti seekor anjing berlari pulang karena takut pada lawan?"

"Mengapa ibu menuntut Ayah begitu keras?"

"Ibu hanya mengingatkan ayahmu, sebagaimana yang telah dilakukan isteri-isteri para sahabat terhadap suami-suami mereka. Saat kembali dari perang Mut'ah, mereka mengunci pintu dan jendela sambil melontarkan kata, "Pergi kau pengecut! Kembali ke medan perang!!"

Malam bertambah larut. Ibu Rabi'ah belum memincingkan mata. Ia belum mendapat jawaban yang tepat jika sang suami bertanya mana uang yang dititipkannya dulu. Uang yang tak mungkin habis jika digunakan hanya untuk hidup berdua dengan hemat.

Adzan Subuh berkumandang dari mesjid Nabawi. Ia bangkit. Anaknya sudah lebih dahulu pergi ke masjid. Al Faruq juga telah bersiap-siap. Tapi ada hal yang mengganjal langkahnya untuk bersegera ke masjid.

"Wahai Ummu Rabi'ah, apa yang telah kamu lakukan dengan uang yang kutinggalkan dulu sebelum berjihad? Jika ada sisanya, aku ingin menjadikannya modal usaha."

Kalimat yang biasa saja, tapi tapi terasa menusuk perasaan Ummu Rabi'ah. Dengan cepat ia berusaha mengendalikan diri.

"Uang itu masih tersimpan," Ummu Rabi'ah berusaha menghindar lagi. Ia merasa ini bukan waktu yang tepat.

"Lekaslah ke masjid. Bukankah kamu telah lama sekali tidak shalat di mesjid Nabi? Tidakkah kamu rindu melakukannya?"

Al-Faruq tidak membantah. Ia bergegas menuju masjid. Sementara Ummu Rabi'ah resah. "Ya Allah, permudahlah urusanku ini. Berilah petunjukMu...!," doanya penuh harap.

Di masjid, Al-Faruq dapat barisan di belakang. Setelah shalat, dibukalah majelis taklim. Lamat-lamat didengarnya suara sang guru. Masih muda. Ditengoknya untuk memastikannya. Benar, walau wajahnya susah dikenali karena tertutup jubahnya. Ah, kalau saja Rabi'ah, anaknya seperti anak muda itu betapa tenteram hidupnya. Ada anak shalih yang senantiasa mendoakannya.

Cukup bagiku anak yang shalih tanpa diberi harta sekalipun, ditorehnya kalimat ini dalam relung-relung hatinya yang paling dalam. Ya, andaikan Rabi'ah.....

Diamatinya sekeliling, yang hadir tampaknya bukan hanya masyarakat awam tapi juga para ulama dan cerdik pandai lainnya.

Ketika selesai, Al-Faruq tinggal sendiri, meresapi rasa rindu dengan masjid suci ini.

“Siapakah ulama yang mengajar tadi?” tanyanya pada seseorang didekatnya.

"Bapak belum kenal siapa guru tadi?" ujar seorang jama'ah menguak tabir keingintahuan Al-Faruq.

Orang itu menjelaskan bahwa sang guru seorang yang alim dan cerdas dalam bidang hadits. Dia juga orang yang arif di bidang hukum syari'ah. Ia sempat berguru pada beberapa shahabat Rosulullah saw. Dan ia adalah mufti Madinah. Lelaki itu mengajak Al-Faruq duduk di sudut tepi masjid Nabawi.

"Sungguh guru kita seorang pemuda yang alim dan dihormati masyarakat. Imam Malik pun salah seorang muridnya. Apakah Bapak tahu, ia lelaki yang sangat pemurah di Madinah ini? Ia menghabiskan banyak uang sampai 40.000 dirham untuk dihadiahkan kepada guru-gurunya dengan tujuan mereka mencurahkan segenap waktu untuk memberi ilmu kepadanya. Ia pernah berkata, 'Harta yang habis bisa di cari, tapi guru-guru yang telah tiada siapakah penggantinya?'"
"Sungguh bahagia orang pandai itu!" cetus kagum Al-Faruq.

"Siapakah namanya?"

"Dialah Rabi'ah Ar-Rayi bin Abu Abdurrahman. Tapi, bapaknya lebih dikenal dengan nama Al-Faruq. Dia masih berada di perbatasan Khurasan. Mungkin Bapak pernah mendengar nama itu?"

Matanya berkaca-kaca tidak mampu lagi menahan gelombang batin seorang ayah yang bangga dengan anak lelakinya. Ia bergegas pergi, meninggalkan kawan bicaranya yang masih terheran-heran.

Setibanya di rumah, Al-Faruq menyandarkan punggungnya di muka pintu, menetralisir gejolak hatinya. Menarik nafas sebentar agar lebih tenang.

"Kau berhasil, wahai isteriku. Kita telah mendapatkan sesuatu yang paling berharga di muka bumi ini!" ceritanya dengan mata yang masih berkaca-kaca.

"Apa yang kamu maksudkan, wahai suamiku?"

"Kita telah punya anak yang shalih, anak yang akan mendoakan kita nanti bila kita menghembuskan nafas. Aku melihat anak kita sangat baik, bertakwa, dan memiliki ilmu luas. Sungguh Allah SWT telah mengangkat derajatnya lebih tinggi dari pada yang kuduga." ucapnya berapi-api.

Ini peluang yang ditunggu-tunggu Ummu Rabi'ah. Dan ia memberanikan diri untuk berterus terang.

"Suamiku, manakah yang lebih engkau sayangi, uang tiga puluh ribu dinar atau anak kita yang kau ceritakan tadi?"

"Demi Allah! Apalah artinya uang itu. Anak shalih lebih menyejukkan mataku!" jawabnya tegas.

"Suamiku, sebenarnya yang kau tinggalkan dulu telah habis kugunakan untuk membiayai anak kita belajar."

Ditatapnya sang suami dengan sinar mata menunggu. Tatapan siap menerima akibat yang terburuk sekalipun.

"Demi Allah, engkau sungguh wanita yang bijak, duhai isteriku. Engkau seorang ibu sejati. Tidak salah aku memilihmu!" Dengan mesra digenggamnya jemari sang isteri seolah ingin memberi tekanan kesungguhan perkataannya.

Matahari Madinah pun tersenyum menyaksikan dua insan bahagia itu. Sinarnya terasa lebih cerah menerpa bumi.