Monday, May 30, 2005

Disiplin Halus, Apa Itu?

Republika, Minggu, 29 Mei 2005
Banyak teknik disiplin membuat anak merasa harus menyenangkan orang tua agar bisa disayang. Bagaimana mendisiplin anak secara halus itu? Lulu bermain terus saat pelajaran menyusun balok bangunan. Akhirnya, Bu Guru menyuruh bocah berumur lima tahun itu meninggalkan karpet, untuk membaca buku. ''Begitu siap, Lulu kembali ke sini ya?'' kata Bu Guru.

Cara ini tak langsung berhasil. Namun, akhirnya Lulu siap mengikuti kegiatan menyusun balok bangunan. Metode pendisiplinan yang digunakan guru Lulu bisa disebut time away. Time away adalah salah satu cara pendisiplinan yang disinggung oleh Kerry Jones dalam seminar Managing Children's Behaviour di Jakarta, Sabtu (21/5).

Ada banyak cara pendisiplinan anak. Mulai dari memukul, menjewer, menyelentik, hingga mengata-ngatai anak dengan kata-kata menyakitkan. Belakangan, orang tua mulai meninggalkan hukuman fisik. Teknik time out pun kemudian banyak menjadi pilihan.

Time out biasa dijalankan dengan cara menyuruh anak ke sudut ruangan yang kosong untuk beberapa menit sampai ia bisa mengendalikan diri. Bisa juga dilakukan dengan cara mengambil hal-hal yang disukainya untuk sementara waktu. Misalnya, melarang nonton tv untuk beberapa hari, memotong uang saku.

Orang tua dan pendidik masa kini cenderung menggunakan teknik yang lebih halus, tapi tak kurang mengontrol. Dari sudut pandang ini, berbagai hukuman, termasuk time out, bahkan juga pemberian hadiah atas suatu perbuatan adalah pelbagai bentuk kontrol orang tua dan guru. Pesan yang tertangkap oleh anak, mereka disayangi hanya bila mereka menyenangkan hati orang tua. Padahal, bukan itu sebenarnya pesan yang ingin disampaikan sebagian besar orang tua maupun guru di sekolah.

Mengontrol diri sendiri
Time out juga termasuk tindakan mengontrol anak. Alih-alih merenungkan perbuatan buruk yang dilakukannya, anak-anak saat dikenai time out justru melakukan yang lain. ''Selama (time out--red) itu, ia mengejek, atau memikirkan cara membalas (hukuman itu --red) Anda?'' kata Jones yang juga wakil kepala sekolah sebuah sekolah nasional plus di Jakarta.

''Cara ini berhasil untuk jangka pendek,'' kata wanita bertubuh tegap itu. Misalnya, anak akan menghentikan perbuatan mengganggunya. Tapi, dari pengalamannya, Jones menyangsikan keefektifan time out untuk jangka panjang. Karena itu, ia menyimpulkan, pada banyak kasus, time out tidak efektif.

Salah satu cara yang tak bersifat menghukum adalah dengan memberi kesempatan anak untuk mengontrol dirinya sendiri. Orang menyebutnya teknik disiplin positif. Salah satunya dengan cara time away. Sebenarnya, time away hampir mirip dengan time out. Jadi, anak dihentikan dari keadaan di mana ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan memerlukan waktu beberapa menit untuk memulihkan keadaannya.

Time away tak hanya bisa dilakukan di sekolah. Time away, menurut Kerry Jones, justru lebih mudah dilakukan di rumah. Sebab, orang tua lebih mengenal anak, lebih mengetahui kegiatan yang disukai sang anak. Bila time out, anak disuruh masuk kamar. Tapi, time away, anak disuruh memilih kegiatan yang disukainya dalam waktu tertentu. Bila selesai, saran Jones, ajak anak bicara mengapa ia harus melakukan pekerjaan atau tugas itu.

''Intinya, membangun pengertian anak,'' kata pendidik asal Australia yang mempunyai pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang usia dini ini. ''Berbicara itu penting.'' Bila anak tak mau membantu pekerjaan rumah tangga, misalnya, Jones menyarankan agar orang tua memberi penjelasan. Anak perlu tahu pentingnya ia melakukan pekerjaan itu untuk dirinya dan orang lain. Misalnya, jika ia membersihkan kamar, kamar menjadi bersih, tidur jadi enak, dan menimbulkan rasa nyaman.

Nah, bila anak selalu menolak, kata Jones, minta anak menyatakan saat ia siap melakukan tugasnya. Dan, ia harus melakukannya saat yang dijanjikannya. Kepada peserta seminar yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pendidik Anak Usia Dini Indonesia ini, Jones menjelaskan, metode pendisiplinan ini memberi anak lebih banyak peluang untuk membuat keputusan. Sebab, bagaimanapun juga, anak belajar cara membuat keputusan yang baik adalah dengan membuat keputusan, bukan dengan mengikuti instruksi.

Konsekuensi logis dan alami
Mendisiplin anak tanpa menghukum muncul dari kalangan yang memegang prinsip unconditional love (cinta tanpa syarat) antara orang tua dan anak. Namun, kalangan ini tak sependapat bila mereka mengembangkan pola asuh permisif. Pandangan ini menyebut banyak cara mendisiplin anak tanpa menyakiti hati anak. Selain time away, Jones menyebut, disiplin bisa dipelajari melalui pengalaman konsekuensi alami dan logis.


Konsekuensi alami memungkinkan anak mengalami konsekuensi yang secara alamiah terjadi sebagai hasil dari tindakan mereka. Misalnya, jika sikecil menolak menyimpan mainannya yang tergeletak di belakang mobil di garasi, Ayah menabraknya saat berangkat kerja esok harinya. Soalnya, ayah tak tahu barang itu ada di sana. Anak akan ingat untuk menyimpan mainannya di hari-hari berikutnya. Tentu saja, ada konsekuensi alami yang tak boleh dilakukan orang tua, misalnya konsekuensi alami bermain di jalan.

Konsekuensi logis adalah konsekuensi yang secara logis berhubungan dengan perilaku anak. Misalnya, si kecil menolak menyimpan mainannya, dan diingatkan jika tidak disimpan, ayah dan ibu akan menyimpan untuk beberapa waktu. Maka, anak yang tak menyimpan mainannya dan mainan itu disingkirkan orang tuanya akan belajar menyimpannya saat diminta.

Konsekuensi yang secara logis tak berhubungan dengan perilaku anak seperti halnya melarang menonton televisi karena tidak menyimpan mainan. Penting dicatat, tak ada satu cara disiplin yang mudah. Tak ada pula cara mendisiplin anak yang benar atau yang salah. Setiap anak, setiap orang tua, dan setiap keluarga berbeda dan perlu mencari paduan teknik disiplin yang cocok bagi mereka.

Thursday, May 26, 2005

Menumbuhkan Sikap Empati Sedari Dini

Sebuah fenomena yang sering terjadi adalah orang tua begitu mengekang kebebasan anak, walaupun memang di mata kita, para orang tua, adalah baik maksudnya. Tapi apakah anak- anak dapat menangkap pesan maksud baik tersebut? Mereka teramat kecil untuk dapat mengerti.

Contoh sederhana adalah, kita sering mendapati anak kita berlari ke sana kemari hingga kurang memperdulikan keselamatan mereka sendiri. Kita sebagai orang tua merasa "ngeri" kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti jatuh, menabrak benda keras, dan lain sebagainya, yang dapat membahayakan keselamatan sang anak. Melihat kondisi anak seperti itu (suka berlari-lari), biasanya kita sebagai orang tua akan langsung menasehatinya atau melarangnya atau memarahinya.

Sekarang mari kita coba mempersulit keadaannya?

Andaikan akhirnya anak Anda yang sedang berlari-lari tersebut jatuh, padahal sebelumnya sudah berbusa mulut Anda menasehatinya agar jangan berlari-larian.
Apa yang Anda lakukan?

Menurut pengalaman saya pribadi ada dua perlakuan yang umum dilakukan.

Pertama, respon refleks umumnya orang tua adalah langsung memarahi anak akibat tidak mau mendengar perkataan mereka. Kalau pun tidak memarahinya, mereka melakukannya dengan cara lain yakni mengingatkannya dengan nada tinggi.

Mungkin kira-kira begini, "Tuh kan apa Ibu/Ayah bilang! Jangan lari-lari .. jadi jatuh, kan! Anak bandel, tidak mau mendengar kata-kata orang tua! Huh!" Kondisi yang lebih ekstrem yang lain adalah seraya berkata/membentak terkadang dibarengi dengan kekerasan tangan (memukulnya), hingga anak pun dibuat menangis karenanya. Kemungkinan besar sang anak menangis bukan akibat dari jatuhnya, tapi karena bentakan atau pukulan orang tua.

Kedua, berusaha untuk tampil empati tapi tetap memarahi atau membentaknya. Misalnya dengan perkataan sebagai berikut, "Aduh adik jatuh, ya! Sakit? Makanya apa Mama/Papa bilang. Nggak mau dengar sih perkataan Mama/Papa. Jadi begini akibatnya! Makanya lain kali dengar kata-kata Mama, ya...", dengan suara yang datar cenderung datar tanpa intonasi tinggi.

Ungkapan kondisi pertama adalah bentuk contoh "judgement" (penghukuman). Artinya, anak langsung diberi hukuman akan tindakan pelanggaran yang dilakukannya (karena tidak mendengar perkataan orang tuanya). Sedangkan, ungkapan kondisi kedua adalah bentuk contoh "semi judgement dan empati". Kondisi ini agak lebih baik, tapi tetap dapat meninggalkan kesan kejadian berulang pada anak. Maksudnya adalah anak akan berkemungkinan besar melakukan perlakuan yang sama dilakukan oleh orang tua kepada dirinya terhadap situasi serupa yang dihadapinya kepada orang lain.

Sekarang coba Anda bayangkan (dari hasil perlakuan kondisi pertama dan kedua di atas) bila sang anak memiliki seorang adik, dan ternyata adiknya melakukan tindakan yang persis dilakukannya, yakni berlari-larian. Sang anak mengingatkan si adik untuk jangan berlari-larian, persis seperti yang dilakukan orang tua terhadap dirinya dan ternyata sang adik mengalami situasi yang sama dengan dirinya yakni jatuh.

Kira-kira berdasarkan pengalaman empiris sebelumnya, perlakuan apa yang akan dilakukan sang kakak terhadap adiknya?

Seorang anak adalah perekam yang sangat kuat. Anak memiliki kemampuan photo-memory yang sangat tinggi. Bila kita mengharapkan seorang anak yang memiliki sifat & sikap empati yang tinggi, maka seyogyanya dilatih sejak dini. Jadi, bila kita berharap sang anak bersikap empati apabila melihat adiknya terjatuh, maka kita diharapkan untuk bertindak serupa terhadap dirinya.

Kisah di atas akan lain ceritanya bila sang ayah/ibu bersikap empati terlebih dahulu ketika mendapati anaknya terjatuh, baru kemudian judgement.

"Aduh ... adik jatuh ya! Sakit? Mana yang sakit? Sini ayah/ibu obati ..." sambil memberikan perhatian terhadap lukanya, jikalau perlu mengobatinya, baru kemudian setelah selesai diobati kita dapat menasehatinya, "Makanya, lain kali lebih hati-hati ya! Tolong dengarkan apa kata ayah/ibu ... Adik mau janji?"

Semoga bermanfaat dan mendatangkan kebenaran

Salam,

Kurnia Wahyudi

Aku Sih Biasa - Biasa Aja!

Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti matematika, bahasa, menggambar (visual), musik (musical), dan olahraga (kinestetik). Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki kecerdasan moral, kecerdasan intra-personal, atau kecerdasan inter-personal?

Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekalin tidak ada scorenya (nilainya) di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan penilaian kuantitatif.

Ada sebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Fani (6,5 tahun), kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman. Dan ia pun tidak bermasalah harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul dengan siapa saja di lingkungan rumahnya. Ada satu hal yang menarik saat ia bercerita tentang teman-temannya.

"Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu...! Pinter Matematika, Bahasa Indonesia. Menggambar....pokoknya pinter sekali....!" katanya santai.

"Vivi juga pintar sekali menggambar, gambarnya bagus ...sekali! Kalau si Yahya hafalannya banyaaak... sekali!"

Ya memang Fani senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika mendengar celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya,
"Kalau mbak Fani pinter apa?" Ia menjawab dengan cengiran khasnya,
"Hehehe...kalau aku, sih, biasa-biasa saja".

Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya tertegun, karena pada dasarnya Fani memang demikian. Ia biasa-biasa saja untuk ukuran prestasi scholastic. Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Fani sering diminta bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban mengerjakan tugas sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar. Bahkan ketika dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun) dan Fadila (2,5 tahun) bertengkar. Fani langsung turun tangan.

"Sudah..! sudah, Dik ! sama saudara tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siap yang mulai?", adiknya saling tunjuk.
"Hayo, jujur! Jujur itu disayang Allah..! Sekarang salaman ya... saling memaafkan".

Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah komentarnya!

"Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Aku sebenarnya pengin, tapi bajuku di rumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu sudah punya rezeki, aku minta dibelikan ..." Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, Subhanallah anak sekecil itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai salah satu ciri kecerdasan emosional.

Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena betapa banyak dari kita yang mengabaikan kecerdasan-kecerdasan emosional seperti itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.

Kadang kita merasa rendah diri manakala anak kita tidak mencapai rangking sepuluh besar di sekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah diri manakala anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau menang sendiri, sombong, suka menipu atau tidak biasa bergaul.

Maka ketika Fani mengatakan "AKU SIH BIASA-BIASA SAJA", maka saat itu ibunya menjawab

"Alhamdulillah, mbak Fani suka menolong teman-teman, tidak sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu adalah kelebihan mbak Fani, diteruskan dan disyukuri ya..?"

Ya... ibunya ingin mensupport dan memberikan reward yang positif bagi Fani. Karena kita tahu anak-anak kita adalah amanah dan suatu saat amanah itu akan diambil dan ditanyakan bagaimana kita menjaga amanah. Sebagaimana doa kita setiap hari agar anak-anak menjadi penyejuk mata dan hati.

Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan emosional anak-anak kita?
Kalau belum mulailah dari diri kita, saat ini juga.

Source : L. Fini R.A